Klaten – Selasa (28/12/2021) Universitas Widya Dharma beserta Universitas Veteran Bangun Nusantara, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Muhammadiyah Semarang, dan Universitas Muhammadiyah Malang berkolaborasi menyelenggarakan “Kuliah Pakar Kajian Linguistik dan Sastra”. Secara khusus, kuliah pakar ini menghadirkan para pakar yang masing-masing menggeluti bidang Stilistika, Pragmatik, Onomastik, pembelajaran berbasis teknologi, serta Sosiolinguistik. Sebagai implementasi kerja sama yang diinisiasi oleh Universitas Muhammadiyah Malang melalui program Visiting Professor, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang mengembangkan kepakaran serta kualitas keilmuan di kalangan akademisi, terutama di kalangan peminat kajian bahasa dan sastra.

Pakar dari UMS, Prof. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum. mengangkat topik yang cukup langka dan menarik yakni tentang peran Stilistika dalam pemaknaan sastra. Topik ini jarang bahkan hampir tak pernah dibicarakan para pakar dalam berbagai forum seminar kebahasaan dan kesastraan. Di awal paparannya, Ali mengkaji gaya Bahasa ‘style’ yang selama ini sering disalahartikan kebanyakan orang sebagai gaya bahasa yang hanya terbatas pada “majas” dan Stilistika. Padahal, majas (demikian menurutnya) itu hanya salah satu bagian dari gaya bahasa. Gaya bahasa meliputi: gaya bunyi (aliterasi, asonansi, dll.), gaya kata (bentuk dan diksi), gaya kalimat (susunan dan efektivitas), gaya wacana (sarana retorika dan alih kode), bahasa figuratif (majas, ungkapan (idiom), dan peribahasa), dan citraan. Adapun Stilistika adalah ilmu yang mengkaji gaya bahasa. Melalui pengkajian gaya bahasa pada karya sastra dengan bantuan teori sastra tertentu seperti Semiotik dan Sosiologi Sastra akan dapat diungkap makna sastra secara komprehensif yang merupakan tujuan final analisis karya sastra.

Pembicara dari UMM, Dr. Daroe Iswatingisih, M.Si. mengulas topik “Tindak Tutur Berdimensi Edukatif dalam Wacana Komunikasi Keluarga dan Pembelajaran”. Dalam prinsip tindak tutur, berbahasa adalah tindakan. Menurut pemateri yang mengutip pendapat Searle membedakan tindak tutur menjadi tiga macam, yakni Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi. Masing-masing tindak tutur tersebut memiliki maksud penggunaan yang berbeda. Tindak tutur lokusi dimaksudkan untuk menyampaikan sesuatu sesuai dengan makna yang dikandung. Hal ini berbeda dengan tindak tutur ilokusi bertujuan untuk melakukan sesuatu dengan maksud tertentu. Tindak tutur Ilokusi yang lebih ditekankan dalam paparan ini dikaitkan dengan wacana komunikasi keluarga dan pembelajaran. Harapan pemateri bahwa dalam berbahasa khususnya dalam keluarga maupun pembelajaran hendaknya penutur, baik orang tua maupun guru menggunakan tuturan yang mengedukasi sehingga mampu mengembangkan pendidikan bagi anak, baik dari aspek intelektual, spiritual, emosional, kultural, sosial, dan moral. Dengan demikian, tindak tutur berdimensi  edukatif yang dibangun dalam komunikasi keluarga dan pembelajaran mampu membangun karakter anak.

Dr. Eric Kunto Aribowo, M.A. dari Universitas Widya Dharma Klaten dengan topik “Onomastik dan Peluang Risetnya di Indonesia” menyuguhkan potensi-potensi riset tentang nama di Indonesia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta beserta beragam etniknya, Indonesia menjadi lahan subur para peneliti onomastik karena tradisi masyarakat memberikan nama pada entitas yang ada di sekelilingnya. Dengan memanfaatkan basis data yang tersedia, seperti Sistem Informasi Administrasi Kependudukan dari Disdukcapil, hasil Sensus Ekonomi dari BPS, atau pangkalan data merek di DJKI menjadi sumber data menjanjikan dalam rangka agenda riset onomastik ke depan. Penelaahan mengenai username, nama komersial, nama tokoh di karya sastra, nama anak hasil perkawinan antar-etnik, serta patronim (pelekatan nama ayah pada nama anak) merupakan fenomena menarik yang dapat dibahas oleh para peminat onomastik. Agenda riset ini tidak hanya dapat dilakukan oleh para (calon) linguis, namun juga sangat memungkinkan berkolaborasi dengan rekan-rekan di bidang ekonomi, sastra, antropologi, maupun sosiologi.

Topik berikutnya, yang disampaikan oleh Dr. Dewi Kusumaningsih, M.Hum. dari Univet cukup menarik perhatian karena mengangkat fenomena penggunaan bahasa dalam lirik lagu yang banyak mengeksploitasi gender, khususnya gender yang didominasi oleh gender perempuan. Kajian gender yang diangkat khusus mencermati adanya pelabelan atau stigma dalam masyarakat tentang perempuan bahwa perempuan masih saja dilabeli dengan stigma negatif sebagai makhluk yang lemah, tertutup (introvert), kurang percaya diri, tidak mandiri, pasif, dan sering menjadi objek laki-laki. Penilaian (stigma) dalam masyarakat baik positif maupun negatif seperti di atas  dicari dalam bentuk-bentuk unit bahasa yang dipakai oleh para penulis lagu dalam lirik lagu dangdut karena lirik lagu-lagu di Indonesia utamanya lagu dangdut masih banyak mengeksploitasi perempuan dengan pelabelan seperti itu.

Di sesi terakhir, Dr. Dodi Mulyadi, M.Pd. dari Unimus menyampaikan topik tentang “Technology-enhanced Language Learning in Listening comprehension”. Topik ini berkaitan dengan hasil survei mahasiswa yang adalah 90 mahasiswa English for Foreign Language dan 20 pengajar EFL dari empat universitas di Provinsi Jawa Tengah Indonesia. Studi ini menyelidiki perspektif guru EFL dan peserta didik EFL tentang sumber belajar online  dalam menguasai instruksi pemahaman mendengarkan. Lebih dari setengah siswa EFL mengakses YouTube untuk mempelajari lebih banyak pemahaman mendengarkan dengan video pembelajaran autentik. Mereka juga percaya pada sumber belajar online yang gersang  dalam menguasai kemampuan mendengarkan, termasuk listening to music, Spotify podcasts to Duolingo, VOA learning English, BBC News, lyrical training applications, OmeTV, and Cambridge dictionary. Sementara itu, perspektif guru EFL tentang  memilih  sumber daya online menunjukkan bahwa  YouTube, lyrics training website, Spotify podcast, TEDTalk, English movie, dan YouTube music berbuah dalam pembelajaran keterampilan Bahasa Asing. Dari persepsi guru Bahasa Inggris,  YouTube merupakan sumber belajar yang banyak dipakai dalam menguasai pemahaman mendengarkan bahasa Inggris. Oleh karena itu,  guru EFL harus belajar bagaimana menggunakan teknologi untuk membuat video pendidikan untuk YouTube untuk meningkatkan keterlibatan belajar siswa di kelas mendengarkan. Setidaknya lebih dari 300 peserta terlibat secara aktif di kuliah pakar ini. Kegiatan yang diselenggarakan di penghujung tahun 2021 ini diharapkan menjadi pintu pembuka kolaborasi kegiatan akademik berikutnya. Semoga kolaborasi kegiatan tridarma, khususnya penelitian dan pengabdian dapat menjadi agenda Universitas Widya Dharma Klaten tahun 2022 sebagai tindak lanjut kegiatan ini. Seluruh materi salindia (presentasi) kuliah pakar ini dapat diakses di https://dik.si/kuliah-pakar, sedangkan untuk rekaman webinar dapat diputar ulang di https://youtu.be/yl0xmKu03-c.