27 Aug

Dari Kampus untuk Budaya: KKN UNWIDHA Hidupkan Kembali Tradisi Wayangan di Desa Mliwis

Boyolali – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Widya Dharma (UNWIDHA) Klaten kembali menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Meneruskan arahan Rektor UNWIDHA, Prof. Triyono, saat penerjunan KKN, mahasiswa didorong untuk mampu menggali potensi lokal dan membangun program yang memiliki manfaat serta keberlanjutan. Semangat tersebut diwujudkan melalui pagelaran wayang kulit di Dukuh Sambungrejo, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Rabu malam (26/8/2026).

Pagelaran wayang kulit tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus menjadi bagian dari rangkaian kegiatan bersih desa. Ratusan warga hadir dengan antusias, menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang kebersamaan sekaligus apresiasi terhadap seni dan budaya Jawa yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Pagelaran semakin istimewa dengan tampilnya Ki Tegar Wisnu Gemilang, mahasiswa Program Studi Bahasa Jawa UNWIDHA, sebagai dalang. Ia membawakan lakon Pandhawa Laku Darma dengan iringan kelompok karawitan Senapaksa yang melibatkan pesinden dari sejumlah daerah. Pertunjukan juga semakin semarak dengan kehadiran Gareng Tralala, seniman lawak atau dagelan asal Kabupaten Karanganyar.

Kehadiran Ki Tegar menjadi gambaran bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memperoleh pengalaman untuk mengenal, mengembangkan, dan melestarikan kekayaan budaya yang tumbuh di lingkungan masyarakat.

Kepala Desa Mliwis, Hardani, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN UNWIDHA. Menurutnya, pagelaran tersebut memiliki arti penting karena masyarakat kembali dapat menikmati wayang kulit setelah cukup lama tidak diselenggarakan. “Sejak pandemi kegiatan wayangan terhenti. Malam ini warga kami kembali dapat menyaksikan wayangan. Kami juga mengapresiasi munculnya seniman muda dari UNWIDHA yang nantinya dapat menjadi teladan dalam merawat dan melestarikan kesenian tradisional agar tidak tergerus perkembangan zaman,” ujarnya.

Rektor UNWIDHA Klaten, Prof. Triyono, menegaskan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan arahan saat penerjunan KKN, yaitu mendorong mahasiswa untuk hadir di tengah masyarakat dengan membaca potensi dan kebutuhan lokal. Menurutnya, KKN bukan sekadar menjalankan program, tetapi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar bersama masyarakat sekaligus memberikan kontribusi yang bermakna.

Prof. Triyono juga menyampaikan bahwa lakon Pandhawa Laku Darma mengandung pesan tentang perjuangan menghadapi berbagai ujian kehidupan. Kesuksesan tidak diraih secara instan, tetapi melalui proses, kejujuran, dan ketulusan. Nilai tersebut, menurutnya, relevan dengan perjalanan UNWIDHA yang terus bertumbuh dan berupaya memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik secara akademik maupun nonakademik.

“Melalui semangat berinovasi dan keberlanjutan, UNWIDHA berkomitmen menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya yang turut memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ungkap Prof. Triyono. Ia menambahkan, pelestarian budaya melalui KKN menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda yang memiliki kompetensi sekaligus kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Triyono juga memperkenalkan UNWIDHA kepada masyarakat Kabupaten Boyolali dan sekitarnya. Saat ini, UNWIDHA memiliki lebih dari 16 program studi yang mencakup jenjang vokasi, sarjana (S1), dan magister (S2). Sebagian besar program studi telah memperoleh akreditasi unggul, menunjukkan komitmen UNWIDHA dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mempersiapkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

“Kami sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat di Kabupaten Boyolali dan sekitarnya bahwa Universitas Widya Dharma Klaten memiliki lebih dari 16 program studi, mulai dari vokasi, sarjana (S1), hingga magister (S2), dan sebagian besar telah terakreditasi unggul. Monggo, bagi masyarakat yang ingin bergabung di UNWIDHA dapat menghubungi petugas Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) kami,” pungkas Prof. Triyono.

Pagelaran wayang kulit di Desa Mliwis menjadi bukti bahwa KKN UNWIDHA dapat menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, budaya, dan masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa belajar dari kehidupan masyarakat, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk kembali menghidupkan potensi budaya lokal. Semangat hadir, berkolaborasi, dan memberikan manfaat berkelanjutan menjadi bagian penting dari pengabdian UNWIDHA kepada masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This field is required.

This field is required.